Rabu, 04 November 2015

DIENG, The Highest Village In Java

Akhirnya, tahun 2015 ini kembali jalan - jalan keluar Bandung, keluar Provinsi Jawa Barat.
Kalau di awal bulan Maret tahun lalu kita ke Desa Sawarna, Lebak, Banten, sekarang di akhir Oktober hingga awal November kita berangkat ke arah Timur Bandung yaitu Desa tertinggi Jawa, Dieng, Jawa Tengah.

Anggota kita ga sebanyak yang dulu, cukup 7 orang dengan 2 orang personil baru. Dari kiri ke kanan : Tesha Tressia Zurya - Fadli Musra - Ikhwanul Wadudi - Alfajry - Rena Novalinda - Dio Yudistira Kurniawan  - Gisca Clarisa Putri

Rencana naik bus dari Bandung - Wonosobo diganti dengan sewa mobil petak Daihatsu Luxio. Perjalanan kami mulai dari Cisitu Lama gang 2 pukul 21.10 WIB di tanggal 30 November 2015. Nyangkut dulu di Cibiru untuk ngambil sepatu buat Tesha. Start jalan lagi pukul 22.24 WIB.

Jalur yang kita lewat, 372 km dengan waktu tempuh hampir 9 jam (berdasarkan google map)

Tapi karena kita ga tau jalan, ditambah istirahat, kita menempuh perjalanan hampir 12 jam. Kasihan yang pandai nyetir cuma satu orang. Capeknya poolll bang, semangat...


Di tanggal 31 November 2015...

Dari Wonosobo - Dieng bayar 10.000 dan dikasih kertas petunjuk jalur wisata ini
Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanyalah bukit - bukit yang dijadikan lahan becocok tanam oleh masyarakat setempat. Pada umumnya mereka menanam kentang.

Telaga Warna, Dieng
Sampai Dieng kita langsung menuju tempat wisata Telaga Warna. Bersih - bersih badan di toilet parkiran dan kemudian mengelilingi Telaga Warna. Sayang seribu kali sayang, kita kurang beruntung karena Telaga Warna-nya lagi susut. Ga seindah bayangan setelah liat - liat foto di google sebelum berangkat. Tapi kata Iwan aslinya memang bagus, secara ini sudah yang kedua kalinya Dia ke Dieng. Uang masuknya 7.500 per orang.

Telaga Warna lagi surut

Bapak penjual kue pancung 2.000an
Sambil mengelilingi Telaga, karena perut lapar, kita jajan tanpa mempedulikan debu yang berterbangan karena ditiup angin. Jajan sejenis kue pancung, bakso tusuk, tahu, cilok, kentang rebus, (kentang goreng, jamur dan minum lupa difoto, hehe).

Jajanan bakso, tahu. cilok. kentang rebus
Jalan terus, terus jalan. Foto terus, terus foto di rumput tinggi yang menguning. Lupa nurunin tripod, alhasil susah foto fullteam dari kamera saya, hehehe. Sambil jalan kami menemukan beberapa spot yang dijadikan masyarakat setempat untuk memompa air untuk irigasi pertanian mereka. Entah memompa air darimana (entah ada sumur atau apa, ga tau juga). Mungkin ada ratusan pompa yang mereka gunakan dan ribuan meter pipa putih sebagai penghubung karena satu spot bisa mencapai 7 - 10 mesin pompa. Semua mereka lakukan, beli BBM untuk menghidupkan pompa demi mendapatkn hasil pertanian yang berkualitas.





wefie dulu :p
Aktifitas masyarakat memompa air, semangat Bapak - Bapak sekalian :)

Selesai mengelilingi telaga, kita cari makan berat karena waktu sudah siang. Mobil diparkir di depan Resto Edelweis dan pesan mie rebus/ goreng + nasi + jus. Resto Edelweis berkonsep lesehan, tapi jangan berekpektasi lebih, tempatnya ga seperti resto - resto yang ada di kota, hehehehe. Walaupun begitu kita bisa santai, tidur - tiduran sejenak meluruskan badan setelah 12 jam di mobil sambil menghubungi Pak Pawit yang punya penginapan Teratai tempat Iwan tinggal selama masa KP dulu. Dengan bayar 300.000 kita sudah dapat 1 kamar untuk cowok, 1 kamar untuk cewek, ruang tamu + ruang nonton (ada kasur juga), dapur, kamar mandi, kentang goreng dan cemilan - cemilan + minuman pagi lainnya. Pokoknya udah kayak rumah sendiri, Pak Pawit dan seluruh jajarannya baik banget, Alhamdulillah.

Sampai di penginapan, kita istirahat sejenak sebelum sorenya jalan ke Candi Arjuna, deket kok dari penginapan. Tiket masuk obyek wisata Candi Arjuna dan Kawah Sikidang sebesar 10.000 (sudah termasuk asuransi). Sayang seribu kali sayang lagi, kita ga sempat ke Kawah Sikidang karena udah sore banget (mulai gelap). Direncanakan besok sehabis liat sunrise di Gunung Prau, tapi ya karena waktu yang ga cukup menimbang lama perjalan balik ke Bandung. so batal deh. Sedih :(( udah jauh - jauh kesana padahal (400 km).

Wefie di Candi Arjuna. Udah mulai dingin, embunnya udah nutupin Bukit yang ada di belakang
Foto saya diterangi lampu sorot untuk candinya. Kalau malam kayaknya bagus deh 

Pulang dari Candi kita ke penginapan lagi, Sholat Magrib dan keluar lagi ke Resto Edelweis lagi untuk makan mie ongklok. Mie ongklok adalah makanan khas Desa Dieng. Kayak mie ayam sih tapi kuahnya kental banget. Ada mie, sayur bayam, sawi, sate, bawang- bawangan. Enak deh pokoknya. Untuk makan mie ongklok ini kita merogoh kocek sebesar 15.000 + 2.000 untuk secangkir teh manis hangat.

Mie Ongklok, khas Dieng. Sepanjang jalan mudah ditemui yang jualan

Sekedar info lagi. setelah ke penginapan dan bertemu Pak Pawit, beliau mengatakan kalau Resto Edelweis itu punya beliau. Kalau denger cerita Iwan, berarti usaha Pak Pawit semakin berkembang dan maju. Dulunya cuma punya 2 toko (1 toko oleh - oleh dekat gerbang Candi, 1 toko syal, kupluk, sarung tangan dekat simpang menuju Candi) sekarang udah ada tambahan 1 toko khusus oleh - oleh Dieng dan Resto Edelweis. Pokoknya segala sesuatu yang tercantum tulisan Edelweis, itu punya Pak Pawit. Dua jempol untuk Pak Pawit yang super duper baik. Do'a dari kita mah semoga lancar terus rezekinya Pak :)

Kita kembali ke penginpan untuk istirahat lagi karena dini harinya sekitar pukul 01.00 WIB akan mendaki Gunung Prau demi melihat sunrise.





0 komentar:

Posting Komentar

 

potongan - potongan kertas Template by Ipietoon Cute Blog Design