Rabu, 11 November 2015

KAMPAS REM di DESA KEMBANG LANGIT

Jalan - jalan dari Bandung - Dieng, Wonosobo sudah jadi wacana sejak lama. Wacana yang terlontar dari mulut Kita setelah merasakan asyiknya, serunya jalan - jalan bareng ke Desa Sawarna, Lebak, Banten awal tahun lalu. Kemana lagi ya? Kemana destinasi kita selanjutnya? Ditambah dengan ajakan dari Wanul yang sudah pernah kesana dan tinggal selama lebih kurang 3 minggu untuk Kerja Praktek di Geodipa, Dieng.

Wacana ini akhirnya terlaksana dengan alasan bawa Teted jalan - jalan. Biasanya kalau ada teman yang ke Bandung dan tinggal dalam waktu yang cukup lama, Kita selalu bawa jalan - jalan. Sekurang - kurangnya keliling wisata Lembang. Untuk kali ini Teted beruntung karena dibawa jalan - jalannya sampai ke Jawa Tengah.

Ngumpul. cari waktu yang tepat untuk berangkat, ajak pasukan, sibuk pinjam sana pinjam sini untuk persiapan mendaki Gunung Prau. Sampai akhirnya Kita memulai perjalanan di malam hari tanggal 30 Oktober 2015 --- cerita perjalanan ke Dieng, aktivitas sampai Dieng, dan mendaki Gunung Prau di postingan sebelum ini ---

di tanggal 01 November 2015...

Setelah turun dari Gunung Prau Kita langsung beres - beres, mandi, karena waktu yang mepet. jalan ke Dieng aja 12 jam, balik ke Bandung bisa lebih lama mengingat hari Minggu dan jadwal pengembalian mobil rental nanti malamnya. Besok Senin Tesha harus ke RSGM jam 8 pagi karena ada acara yang katanya ga bisa ditinggalkan.

Jalur yang Kita lewati untuk balik ke Bandung berbeda dengan jalan sebelumnya. Lewat jalur atas dengan jarak yang lebih jauh namun estimasi waktu yang lebih singkat karena melewari jalan tol. GPS diaktifkan dan perjalanan pun dimulai. Awalnya jalan yang dilalui mulus, lancar walaupun kecil. GPS selalu menunjukkan jalan tikus dengan lewat beberapa perkampungan. Entah sudah berapa kampung yang Kita singgahi, sampai - sampai ada yang harus putar balik karena jalannya buntu untuk mobil, cuma bisa dilalui oleh sepeda motor saja. Mas - mas yang kasih tau jalan buntu itu langsung tau kalau Kita pakai GPS, hahaha berarti sudah banyak korban sebelum Kita. 

Jalan terus mengikuti perintah GPS membawa Kita ke jalan yang kecil, jalanya rusak, menurun pula. Walaupun sudah dibeton namun tetap jalannya jelek, mungkin tergerus air hujan kali ya, berlobang - lobang. Kalau lihat di peta, jalan rusak yang kita tempuh itu lebih dari 15km. Ya Tuhan, Kita cari jalan alternatif tapi bukan berarti jalannya begini juga, kalau kayak gini sama aja waktu tempuh jadi lama, maksimal kecepatan cuma 10 km/jam. Kita kesel sama petunjuk yang diberikan GPS tapi ya mau gimana udah terlanjur juga. Mau balik? Udah jauh juga, jalanan yang mendaki tajam, BBM cuma tinggal 2 garis.

Singkat cerita Kita terus jalan, sampai akhirnya setelah setengah perjalanan, Wanul merasa ada yang salah dengan rem mobil. Yang sebelumnya injak rem sedikit aja udah pelan mobilnya, sampai di injak rem agak dalam baru mobilnya pelan. Agak cemas, jangan sampai remnya blong.

Dijalan yang agak lebar, Wanul sebagai sopir memutuskan untuk berhenti dan tanya ke warung bakso dimana bengkel terdekat. Ternyata ga ada, bengkel terdekat berjarak sekitar 5km ke bawah, jalan ke bawah sama seperti sebelum - sebelumnya, rusak dan turunan terus.

Mulai stres, hari sudah siang sekitar pukul 2 lewat, perjalanan masih jauh, kalau dihitung - hitung waktu sampai Bandung udah sangat molor. Tapi demi keselamatan bersama, Kita memutuskan untuk istirahat sejenak di kedai Bakso sambil nungguin Wanul yang dianter Mas baik hati (suami Mba yang jualan bakso) beli kampas rem ke bengkel. Karna Kita ga enak hati cuma numpang duduk aja di kedai orang, ya Kita beli baksonya.

Satu jam berlalu, Kita yang nunggu udah makan bakso, udah sholat Zuhur dan Ashar, duduk - duduk di mesjid karena hujan, tetap liat setiap kendaraan yang lewat. Nungguin Wanul dan Mas baik hati datang.
Menunggu, tetap menunggu dan Alhamdulillah dua orang montir datang dengan motor dan berhenti tepat di depan mobil kami. Langsung minta kunci roda, dongkrak dan dengan sangat cekatan buka roda depan mobil dan menukar kampas remnya.

Setelah selesai di kedua roda depan, montir melakukan pengecekan ulang. Entah gimana caranya, masih aneh, cek minyak rem, penuh kok, sampai akhirnya roda belakang juga dibuka. Nah, dari perkataan montirnya, ini yang kena bukan yang depan, kampas rem yang belakang ini mah sama central remnya.

Panik lagi, hari mulai gelap. Kata montirnya mending mobilnya dibawa ke bawah aja. Kalau kita ambil lagi kampas rem belakang ke bawah, akan makan waktu juga, sementara bengkelnya udah mau tutup. Tanya ke Wanul, berani ga bawa mobilnya ke bawah? Dianya ragu karna udah liat medan waktu beli kampas rem depan sama mas baik hati tadi. Ditambah lagi habis ujan, jalanan licin. Minta tolong ke salah satu montirnya, montirnya juga ga mau. Alhasil Mas baik hati kembali nolongin Kita. Mas baik hati nyetir mobil sampai lewat jalanan yang menantang. Karna satu alasan Mas baik hati ga bisa nganterin Kita sampai ke bengkel, dengan terpaksa Wanul yang ngelanjutin nyetir.


Entah kenapa Saya merasa merasa perlu tau apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya harus dilakukan. Apa benar Kita harus menukar kampas belakang juga? Apa benar kita harus menukar central rem yang kata montirnya bermasalah? Butuh biaya berapa? Nambah berapa kita buat iuran?

Tanpa pikir panjang, di jalan ke bengkel Saya memutuskan untuk telfon Papa. Cerita kronologinya dan minta saran apa yang harus Kita lakukan. Alhamdulillah sekali dapet pencerahan, kata - kata Papa hampir sama dengan perkataan montir tadi, yang kena itu central remnya. Tapi Kita ga perlu ganti kampas rem, apalagi ganti central rem. Tekor banyak, hehehe. Kalau ganti central rem, Kita bisa bayar 1jutaan, minta aja ganti karet central remnya, cuma 50.000an.

THANKS DAD,

Setelah menyampaikan semua yang disuruh Papa ke montirnya, anehnya ga ada yang diganti satu pun termasuk karet central remnya. Sekaramg kata masnya central remnya gapapa, palingan kita cuma buang angin remnya aja. Alhamdulillah lagi, ga jadi keluar duit lagi. Tinggal bayar jasa montir aja. :) Perjalanan dilanjutkan, jalan udah bagus, udah masuk kota, Pekalongan.

Kesabaran kembali diuji. Jalan Pantura yang kita lewati ternyata macet parah, mobil besar dan bus yang ugal - ugalan. Padahal udah ada pembatas jalan, dengan seenaknya bus - bus besar itu ngambil satu jalur lawan. Astaghfirullahal'azim..

Hari sudah gelap dan dengan terpaksa kasih kabar ke mas rental mobil kalau kita nambah sewa 12 lagi. Istirahat di SPBU biar yang nyetir bisa tidur, yang nemenin di depan juga bisa tidur. pokoknya itirahatlah setelah stres dengan kampas rem (tetap aja yang seharusnya istirahat, ga bisa - bisa karena kepikiran).

Singkat cerita jalan menuju tol macet parah, udah di tol macet juga. Padahal udah di jalan bebas hambatan, tetap aja macet. Wanul yang nyetir udah mulai bete karna macet dan bikin ngantuk berat. Memutuskan keluar dari tol, entah sampainya dimana, yang penting pengen terbebas dari macet yang bikin gila. Subuh sekitar jam 4 berhenti lagi di SPBU dan akhirnya baru benar - benar tidur sampai jam 6 pagi.

Lanjut jalan dan ternyata Kita melakukan hal yang tepat untuk keluar tol. Untuk sampai ke Bandung, Kita melewati Sumedang, lalu Jatinangor, udah sering dengar daerahnya, udah mulai tenang. Tesha yang tadinya harus ke RSGM memberikan kabar baik kalau ga jadi, udah ada temen lain yang menggantikan. Jadi kita jalan bisa agak santai dan akhirnya sampai di kosan pukul 11 pagi kurang dikit.

Kita ke Dieng cuma 12 jam, balik ke Bandung memakan waktu 2 kali lipat. 24 jam. Super sekali pengalaman jalan - jalan kali ini. Dari lebih kurang 60 jam Kita bersama, 36 jamnya dihabiskan bersama di mobil.
Banyak orang baik di perjalanan Kita kali ini. Mulai dari Pak Pawit beserta keluarga yang punya penginapan, Mas yang ada di basecamp pendakian, Mas Baik hati yang mau nganterin ke bengkel, Mas rental yang udah mau dinego, Do'a dari Kita semoga orang - orang tersebut dilancarkan rezkinya oleh Allah S.W.T. Aamiin Ya Rabbal  Alamin.

Kita Geng Dieng
Makasi Wanul yang udah nyetir sendirian, tanpa pengganti. Salut, Tapi plis.....
Makasi Ted yang udah setia nemenin Wanul nyetir, selalu ngoceh

Makasi juga untuk semua anggota lain, Tesha, Rena, Dio, Ajel, untuk kita semua. untuk jalanan yang ditempuh, untuk daerah yang dilewati, untuk orang dijumpai, semua bagian di perjalanan yang melelahkan namun membahagiakan ini.





Selasa, 10 November 2015

PENDAKIAN GUNUNG PRAU 2565 mdpl

Selesai makan mie ongklok di Resto Edelweis milik Pak Pawit, kami singgah dulu ke basecamp pendakian Gunung Prau. Basecamp pendakian Gunung Prau ada 4, yaitu via Patak Banteng, via ... , via Dieng dan via Dwarawati. Kita memilih jalur via Dwarawati karena itu yang terdekat dari tempat penginapan. Sampai di basecamp, kita tanya - tanya sama mas - mas yang jaga, gimana jalurnya, suhuya, aman ga kalau kita naik dini hari. Setelah berdiskusi, kita bayar tiket 10.000 per orang (termasuk asuransi jasa raharja 200 rupiah). dan dikasih peta jalur pendakian.

via Dwarawati

Kita balik ke penginapan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Istirahat sejenak sebelum start jalan pukul 02.00 dini hari (rencana awal pukul 01.00, tapi ya karena telat bangun, hehehe).

Jalan sampai pos 1 dianter sama mas - mas yang ada di basecamp, setelah itu kita lanjutin sendiri. Kebetulan di pos 1 ada tenda, ada yang jaga, jadi bisa istihat sejenak, Kalau pos 2 dan pos 3 cuma ada plang penanda doang.

Jalan yang kita lalui dari basecamp menuju pos 1 nanjak terus (dikit banget bonusnya), lewat tengah kebun masyarakat sana, tanahnya kering, siap - siap aja dengan debunya. Dari pos 1 menuju pos 2 cukup seneng sama bonus jalannya walaupun perjalanannya lebih panjang dari basecamp menuju pos 1. Di perjalanan menuju pos 2 kita mulai diterpa angin kencang, dinginnya sampai ke tulang. Bbbrrr...

Dari pos 2 ke pos 3, jalannya kembali nanjak terus, bahkan yang bikin lebih capeknya itu karena ada anak - anak tangga, entah itu dari batu dan akar - akar pohon.

Pos 3 menuju puncak, kita lewat dekat pemancar, alhasil jalan sedikit lebih jauh. Dari pemancar itu jalanan udah bonus semua deh ( bisa terlihat di peta).

Kita jalan sangat santai, banyak istirahatnya. Sampai puncak sekitar pukul lima kurang dikit, lebih kurang 3 jam perjalanan. Jalan pake masker bikin sesak nafas, buka masker malah dingin, semua jadi ingusan :p. Demi sunrise di awal bulan.

Sunrise waktu sampai puncak
Beautiful view, matahari akan segera nongol
More Closely
energi full lagi sampai di puncak, angin kencang, udah pakai kacamata, tetep aja kelilipan
Matahari sudah mulai tinggi
Mengejar matahari hingga 2565 mdpl tepat di tanggal 01 November 2015
Jangan Lupa Bahagia :)
Beberapa yang nge-camp
Dari puncak kelihatan telaga warna, bukit yang sudah jadi lahan perkebunan masyarakat, beberapa kelompok pemukiman
Pemandangan jalan turun : bukit, lembah, gunung dan langit beserta awan

Kalau kita jalan terus ke ujung melewati area pendirian tenda, kata orang pemandangannya akan lebih bagus lagi. Banyak gunung lain yang kelihatan dan tentunya lautan awan putih bersih.

Jika ada kesempatan kedua kita kesini, kita cobain ngecamp ya. Pasti lebih seru kayaknya. bisa masak mie, teh dan kopi yang udah kita bawa ke atas. Ga peru dibawa turun lagi, hahaha.

Kebetulan karna kesasar entah dimana jalur naik sama jalur turun kita berbeda. Kita turun via jalur Dieng, muter - muter lebih jauh namun jalannya banyak anak tangga dan jalan datar juga.

Jalan turun, masih 05.41 AM udah terang benderang (dari HP Tesha)
Sepanjang jalan pulang ditemani bunga - bunga ini

Masak air, untuk bikin pop mie dan kopi setelah sholat
Jalan bonus (datar) waktu turun via Dieng



Rabu, 04 November 2015

DIENG, The Highest Village In Java

Akhirnya, tahun 2015 ini kembali jalan - jalan keluar Bandung, keluar Provinsi Jawa Barat.
Kalau di awal bulan Maret tahun lalu kita ke Desa Sawarna, Lebak, Banten, sekarang di akhir Oktober hingga awal November kita berangkat ke arah Timur Bandung yaitu Desa tertinggi Jawa, Dieng, Jawa Tengah.

Anggota kita ga sebanyak yang dulu, cukup 7 orang dengan 2 orang personil baru. Dari kiri ke kanan : Tesha Tressia Zurya - Fadli Musra - Ikhwanul Wadudi - Alfajry - Rena Novalinda - Dio Yudistira Kurniawan  - Gisca Clarisa Putri

Rencana naik bus dari Bandung - Wonosobo diganti dengan sewa mobil petak Daihatsu Luxio. Perjalanan kami mulai dari Cisitu Lama gang 2 pukul 21.10 WIB di tanggal 30 November 2015. Nyangkut dulu di Cibiru untuk ngambil sepatu buat Tesha. Start jalan lagi pukul 22.24 WIB.

Jalur yang kita lewat, 372 km dengan waktu tempuh hampir 9 jam (berdasarkan google map)

Tapi karena kita ga tau jalan, ditambah istirahat, kita menempuh perjalanan hampir 12 jam. Kasihan yang pandai nyetir cuma satu orang. Capeknya poolll bang, semangat...


Di tanggal 31 November 2015...

Dari Wonosobo - Dieng bayar 10.000 dan dikasih kertas petunjuk jalur wisata ini
Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanyalah bukit - bukit yang dijadikan lahan becocok tanam oleh masyarakat setempat. Pada umumnya mereka menanam kentang.

Telaga Warna, Dieng
Sampai Dieng kita langsung menuju tempat wisata Telaga Warna. Bersih - bersih badan di toilet parkiran dan kemudian mengelilingi Telaga Warna. Sayang seribu kali sayang, kita kurang beruntung karena Telaga Warna-nya lagi susut. Ga seindah bayangan setelah liat - liat foto di google sebelum berangkat. Tapi kata Iwan aslinya memang bagus, secara ini sudah yang kedua kalinya Dia ke Dieng. Uang masuknya 7.500 per orang.

Telaga Warna lagi surut

Bapak penjual kue pancung 2.000an
Sambil mengelilingi Telaga, karena perut lapar, kita jajan tanpa mempedulikan debu yang berterbangan karena ditiup angin. Jajan sejenis kue pancung, bakso tusuk, tahu, cilok, kentang rebus, (kentang goreng, jamur dan minum lupa difoto, hehe).

Jajanan bakso, tahu. cilok. kentang rebus
Jalan terus, terus jalan. Foto terus, terus foto di rumput tinggi yang menguning. Lupa nurunin tripod, alhasil susah foto fullteam dari kamera saya, hehehe. Sambil jalan kami menemukan beberapa spot yang dijadikan masyarakat setempat untuk memompa air untuk irigasi pertanian mereka. Entah memompa air darimana (entah ada sumur atau apa, ga tau juga). Mungkin ada ratusan pompa yang mereka gunakan dan ribuan meter pipa putih sebagai penghubung karena satu spot bisa mencapai 7 - 10 mesin pompa. Semua mereka lakukan, beli BBM untuk menghidupkan pompa demi mendapatkn hasil pertanian yang berkualitas.





wefie dulu :p
Aktifitas masyarakat memompa air, semangat Bapak - Bapak sekalian :)

Selesai mengelilingi telaga, kita cari makan berat karena waktu sudah siang. Mobil diparkir di depan Resto Edelweis dan pesan mie rebus/ goreng + nasi + jus. Resto Edelweis berkonsep lesehan, tapi jangan berekpektasi lebih, tempatnya ga seperti resto - resto yang ada di kota, hehehehe. Walaupun begitu kita bisa santai, tidur - tiduran sejenak meluruskan badan setelah 12 jam di mobil sambil menghubungi Pak Pawit yang punya penginapan Teratai tempat Iwan tinggal selama masa KP dulu. Dengan bayar 300.000 kita sudah dapat 1 kamar untuk cowok, 1 kamar untuk cewek, ruang tamu + ruang nonton (ada kasur juga), dapur, kamar mandi, kentang goreng dan cemilan - cemilan + minuman pagi lainnya. Pokoknya udah kayak rumah sendiri, Pak Pawit dan seluruh jajarannya baik banget, Alhamdulillah.

Sampai di penginapan, kita istirahat sejenak sebelum sorenya jalan ke Candi Arjuna, deket kok dari penginapan. Tiket masuk obyek wisata Candi Arjuna dan Kawah Sikidang sebesar 10.000 (sudah termasuk asuransi). Sayang seribu kali sayang lagi, kita ga sempat ke Kawah Sikidang karena udah sore banget (mulai gelap). Direncanakan besok sehabis liat sunrise di Gunung Prau, tapi ya karena waktu yang ga cukup menimbang lama perjalan balik ke Bandung. so batal deh. Sedih :(( udah jauh - jauh kesana padahal (400 km).

Wefie di Candi Arjuna. Udah mulai dingin, embunnya udah nutupin Bukit yang ada di belakang
Foto saya diterangi lampu sorot untuk candinya. Kalau malam kayaknya bagus deh 

Pulang dari Candi kita ke penginapan lagi, Sholat Magrib dan keluar lagi ke Resto Edelweis lagi untuk makan mie ongklok. Mie ongklok adalah makanan khas Desa Dieng. Kayak mie ayam sih tapi kuahnya kental banget. Ada mie, sayur bayam, sawi, sate, bawang- bawangan. Enak deh pokoknya. Untuk makan mie ongklok ini kita merogoh kocek sebesar 15.000 + 2.000 untuk secangkir teh manis hangat.

Mie Ongklok, khas Dieng. Sepanjang jalan mudah ditemui yang jualan

Sekedar info lagi. setelah ke penginapan dan bertemu Pak Pawit, beliau mengatakan kalau Resto Edelweis itu punya beliau. Kalau denger cerita Iwan, berarti usaha Pak Pawit semakin berkembang dan maju. Dulunya cuma punya 2 toko (1 toko oleh - oleh dekat gerbang Candi, 1 toko syal, kupluk, sarung tangan dekat simpang menuju Candi) sekarang udah ada tambahan 1 toko khusus oleh - oleh Dieng dan Resto Edelweis. Pokoknya segala sesuatu yang tercantum tulisan Edelweis, itu punya Pak Pawit. Dua jempol untuk Pak Pawit yang super duper baik. Do'a dari kita mah semoga lancar terus rezekinya Pak :)

Kita kembali ke penginpan untuk istirahat lagi karena dini harinya sekitar pukul 01.00 WIB akan mendaki Gunung Prau demi melihat sunrise.





 

potongan - potongan kertas Template by Ipietoon Cute Blog Design